Jangan Merasa Lebih Tinggi, Hargailah Keberadaan Orang Lain
Kesadaran terhadap keberadaan orang lain menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang penuh penghargaan.

Jangan Merasa Lebih Tinggi, Hargailah Keberadaan Orang Lain
Oleh: Bangun Lubis – Ketua Bidang Informatika MUI Sumsel
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Di mana pun kita berada, selalu ada orang lain yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Ada keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, guru, bawahan, maupun orang-orang sederhana yang mungkin pernah memberikan pertolongan. Karena itu, kesadaran terhadap keberadaan orang lain menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang penuh penghargaan.
Namun, tidak semua orang memiliki kesadaran seperti itu. Ada yang ketika sudah memperoleh jabatan, kekayaan, popularitas atau kedudukan tertentu, kemudian berubah sikap. Orang yang dahulu dihormati dan diajak berbicara, tiba-tiba dianggap tidak ada. Mereka yang dulu dekat, bahkan bisa diperlakukan seolah-olah tidak memiliki arti apa-apa.
Sikap seperti ini patut menjadi bahan renungan. Sebab, keberhasilan seseorang tidak pernah lahir hanya dari dirinya sendiri. Di balik perjalanan hidup setiap orang, selalu ada tangan-tangan lain yang pernah membantu, memberikan kesempatan, mengajarkan ilmu, memberikan dukungan atau sekadar memberikan doa.
Islam sangat jelas mengingatkan manusia agar tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sungguh, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”QS. Al-Isra’ (17):37.
Ayat ini mengingatkan bahwa sebesar apa pun kelebihan manusia, tetap ada batasnya. Jabatan memiliki masa, kekayaan dapat berkurang, popularitas dapat hilang dan kekuasaan tidak akan selamanya berada di tangan seseorang.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras tentang kesombongan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
Maka, merendahkan orang lain bukanlah persoalan sepele. Ketika seseorang merasa dirinya lebih hebat lalu memandang orang lain tidak ada apa-apanya, sesungguhnya ia sedang mempertontonkan kelemahan akhlaknya sendiri.
Kita perlu memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat. Tidak boleh seseorang dihargai hanya karena hartanya, jabatannya atau karena ia sedang memberikan manfaat kepada kita. Penghargaan yang sebenarnya justru terlihat ketika kita tetap menghormati seseorang meskipun tidak ada kepentingan apa pun.
Jangan hanya ramah kepada orang yang mempunyai kekuasaan. Jangan hanya menghormati orang kaya. Jangan hanya tersenyum kepada orang yang dapat membantu kepentingan kita. Orang sederhana sekalipun berhak mendapatkan penghormatan.
Kita juga tidak perlu merasa paling hebat hanya karena memiliki ilmu lebih banyak. Orang berilmu seharusnya semakin rendah hati. Orang yang memiliki kedudukan seharusnya semakin bijaksana. Orang yang mendapatkan rezeki lebih banyak seharusnya semakin mudah membantu.
Hidup ini terus berubah. Orang yang hari ini berada di atas belum tentu selamanya berada di atas. Demikian pula orang yang hari ini berada dalam kesulitan belum tentu selamanya berada di bawah.
Karena itu, jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena keadaan hidupnya hari ini. Bisa jadi suatu saat ia menjadi orang yang jauh lebih berarti. Dan yang lebih penting, kita tidak pernah tahu bagaimana kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT.
Menghargai orang lain juga tidak berarti kita harus selalu setuju dengan pendapatnya. Kita boleh berbeda pandangan, berbeda pilihan dan berbeda cara berpikir. Tetapi perbedaan tidak boleh menghilangkan adab.
Sebuah sapaan sederhana, ucapan terima kasih, kesediaan mendengarkan dan menghormati pendapat orang lain mungkin terlihat kecil. Namun, bagi seseorang yang merasa tidak dianggap, hal-hal sederhana itu bisa sangat berarti.
Pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang hanya karena tinggi jabatannya atau banyak hartanya. Manusia akan dikenang karena sikapnya terhadap sesama.
Jangan merasa terlalu tinggi hingga tidak mampu melihat orang lain. Jangan merasa terlalu hebat hingga menganggap orang lain tidak ada. Sebab kemuliaan bukan terletak pada kemampuan merendahkan orang lain, melainkan pada kemampuan menghargai dan memuliakan sesama.
Itulah akhlak yang membuat kehidupan menjadi lebih manusiawi: hadir tanpa menyombongkan diri, berhasil tanpa merendahkan, dan memiliki kelebihan tanpa membuat orang lain merasa kecil.



