Sabar, Berbuat Baik dan Bersyukur: Tiga Jalan Menjemput Rahmat Allah
Ada sikap yang harus dibangun agar kita tetap memiliki kekuatan menghadapi kehidupan: sabar, berbuat baik dan bersyukur.

Sabar, Berbuat Baik dan Bersyukur: Tiga Jalan Menjemput Rahmat Allah
Oleh: Kiai Mahmudin, M.Si. – Sekretaris Umum MUI Sumatera Selatan
Ada kalanya kehidupan membawa kita pada keadaan yang tidak pernah kita rencanakan. Usaha telah dilakukan, doa telah dipanjatkan, tetapi hasil belum juga sesuai harapan. Rezeki terasa sempit, persoalan datang silih berganti, sementara jalan keluar belum terlihat.
Dalam keadaan seperti itu, manusia sering bertanya: mengapa hidup begitu berat?
Bagi seorang Muslim, pertanyaan itu seharusnya tidak berhenti pada keluhan. Ada sikap yang harus dibangun agar kita tetap memiliki kekuatan menghadapi kehidupan: sabar, berbuat baik dan bersyukur.
Ketiganya tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi yang tangguh dan dekat dengan Allah SWT
Sabar bukan berarti menyerah. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika keadaan belum sesuai dengan keinginan. Orang yang sabar tetap berikhtiar, tetapi tidak memaksa Allah agar memberikan sesuatu sesuai kehendaknya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Perhatikan janji Allah tersebut: “Allah beserta orang-orang yang sabar.” Ini bukan janji kecil. Ketika seseorang berada dalam kesulitan dan tetap bersabar, sesungguhnya ia tidak sendirian. Ada pertolongan dan penyertaan Allah yang mungkin bentuknya tidak langsung terlihat.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa sabar memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Sabar diperlukan dalam menjalankan ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, dan menghadapi ketentuan Allah yang tidak sesuai dengan keinginan manusia.
Dengan demikian, sabar bukan sekadar menunggu. Sabar adalah tetap berjalan ketika perjalanan terasa berat.
Namun, kesabaran harus disertai dengan kebaikan. Jangan sampai seseorang merasa karena dirinya sedang diuji, ia kemudian merasa berhak menyakiti orang lain.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77: “Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
Kebaikan adalah investasi yang tidak pernah benar-benar hilang. Bisa saja manusia melupakan kebaikan kita, tetapi Allah tidak pernah melupakannya.
Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Ternyata kebaikan tidak selalu membutuhkan harta. Terkadang kebaikan cukup dengan menjaga lisan agar tidak melukai hati orang lain.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, masyarakat juga semakin mudah terjebak dalam persaingan, prasangka, saling menyalahkan, bahkan pertengkaran di ruang publik. Karena itu, berbuat baik sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya saling menjatuhkan. Kemudian ada syukur.
Persoalan manusia sering kali bukan karena Allah memberikan terlalu sedikit, tetapi karena manusia terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.
Allah SWT telah memberikan janji dalam QS. Ibrahim ayat 7:“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Syukur bukan berarti berhenti berusaha. Justru orang yang bersyukur akan bekerja lebih baik karena ia menyadari bahwa kemampuan untuk bekerja, berpikir, sehat dan berusaha juga merupakan nikmat Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa syukur mencakup hati, lisan dan perbuatan. Hati mengakui nikmat berasal dari Allah. Lisan memuji-Nya. Sedangkan perbuatan menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang diridai Allah.
Karena itu, seseorang yang memiliki harta tetapi tidak mau berbagi belum tentu benar-benar bersyukur. Orang yang memiliki ilmu tetapi menggunakannya untuk merendahkan orang lain juga belum memahami hakikat syukur.
Nikmat akan menjadi berkah ketika digunakan untuk kebaikan.
Di sinilah hubungan antara sabar, kebaikan dan syukur menjadi sangat kuat.
Ketika mendapat ujian, kita bersabar. Ketika mendapat kesempatan, kita berbuat baik. Ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur.
Ketiganya membuat manusia tidak mudah tumbang oleh keadaan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”(HR. Muslim)
Hadis ini memberikan perspektif yang sangat penting. Bagi seorang mukmin, kehidupan tidak hanya dinilai dari mudah atau sulit. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menyikapi kemudahan dan kesulitan tersebut.
Ketika kaya, ia bersyukur. Ketika miskin, ia bersabar. Ketika berhasil, ia tidak sombong. Ketika gagal, ia tidak putus asa.
Allah bahkan menjanjikan jalan keluar bagi orang yang bertakwa. Dalam QS. At-Talaq ayat 2–3, Allah SWT berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa rezeki tidak selalu datang dari jalan yang kita perkirakan.
Karena itu, jangan pernah mengukur kasih sayang Allah hanya dari banyaknya uang yang kita miliki. Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang baik adalah rezeki. Sahabat yang tulus adalah rezeki. Ilmu adalah rezeki. Kesempatan beribadah adalah rezeki. Bahkan kemampuan untuk tetap bersabar ketika menghadapi kesulitan adalah rezeki.
Boleh jadi sesuatu yang kita anggap sebagai musibah justru menjadi pintu menuju kedewasaan. Boleh jadi kegagalan menyelamatkan kita dari kesombongan. Boleh jadi keterlambatan rezeki membuat kita lebih dekat kepada Allah.
Maka, ketika kehidupan terasa berat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi Allah sedang mendidik kita.
Jangan pula berhenti berbuat baik hanya karena kebaikan kita belum dibalas manusia. Kita berbuat baik bukan semata-mata untuk mendapatkan balasan manusia, tetapi karena kita berharap balasan dari Allah.
Dan jangan pernah berhenti bersyukur hanya karena masih ada kekurangan dalam hidup kita. Sebab orang yang hanya melihat apa yang belum dimiliki akan sulit merasakan nikmat yang telah berada di tangannya.
Pada akhirnya, manusia tidak memiliki kendali penuh atas jalan hidupnya. Kita hanya diperintahkan untuk berikhtiar, berdoa dan menjaga hati. Sabar ketika diuji. Baik ketika diberi kesempatan. Syukur ketika menerima nikmat.
Tiga sikap itu mungkin tidak membuat seluruh persoalan hidup langsung hilang. Tetapi ketiganya akan membuat kita memiliki hati yang lebih kuat untuk menghadapinya.
Dan ketika hati dekat kepada Allah, jalan yang semula terasa buntu pun dapat terbuka melalui cara yang tidak pernah kita sangka.
Sebab rahmat Allah sering kali datang bukan ketika kita merasa sudah mampu, tetapi ketika kita tetap percaya kepada-Nya di saat kita merasa tidak mampu.



