DUNIA ISLAM

Tragedi Gaza: Bangunan Rusak Runtuh, Sedikitnya 21 Warga Palestina Tewas

Hampir 100 warga Palestina masih berada di bawah reruntuhan

Tragedi Gaza: Bangunan Rusak Runtuh, Sedikitnya 21 Warga Palestina Tewas

 

GAZA — Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Jalur Gaza. Sebuah bangunan tempat tinggal yang sebelumnya rusak akibat perang runtuh di Gaza City, Rabu (16/9/2026).

Sedikitnya 21 warga Palestina tewas, termasuk 12 anak-anak, sementara 14 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Laporan Al Jazeera menyebut bangunan al-Saada yang terdiri dari enam lantai itu runtuh pada malam hingga dini hari. Puluhan warga masih dikhawatirkan tertimbun di bawah puing-puing. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan hampir 100 warga Palestina masih berada di bawah reruntuhan ketika proses pencarian berlangsung.

Tim penyelamat bekerja bersama warga setempat untuk mencari korban. Dalam rekaman yang diverifikasi Al Jazeera, sejumlah anak berhasil dikeluarkan dari reruntuhan dalam keadaan hidup. Namun, keterbatasan alat berat membuat proses penyelamatan berjalan lambat.

Basal mengatakan kepada Al Jazeera bahwa petugas Pertahanan Sipil masih berupaya menemukan korban yang tertimbun dan orang-orang yang belum diketahui keberadaannya. Kondisi tersebut menjadi semakin sulit karena tim penyelamat tidak memiliki peralatan yang memadai untuk memindahkan beton dan puing-puing dalam jumlah besar.

Tinggal di Bangunan yang Tidak Aman

Al Jazeera melaporkan bangunan tersebut sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat serangan udara. Kerusakan struktur membuat bangunan menjadi rapuh. Namun, sebagian warga tetap tinggal di dalamnya karena tidak memiliki tempat lain untuk berlindung.

Baca Juga  Besarnya Pahala Ikhlas dan Sabar, Jalan Meraih Ridha dan Pertolongan Allah SWT”

Kisah keluarga Hayat al-Ajlah menggambarkan kondisi tersebut. Ia bersama anak-anaknya berada di bangunan itu ketika tiba-tiba struktur bangunan runtuh. Al Jazeera melaporkan sembilan anggota keluarga besarnya meninggal dunia, sementara empat anaknya selamat. Salah seorang putrinya harus menjalani perawatan akibat cedera serius di kepala.

Keluarga tersebut sebelumnya pernah mengungsi dari kawasan Shujayea ke Deir el-Balah. Mereka kemudian kembali ke Gaza City sekitar dua bulan sebelum tragedi terjadi. Karena kondisi tenda pengungsian yang berat dan terbatasnya pilihan tempat tinggal, mereka memilih menempati sebuah apartemen yang sudah mengalami kerusakan.

Kesaksian warga lainnya juga menunjukkan bahwa kerusakan bangunan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Gaza. Beberapa warga mengaku melihat bagian bangunan runtuh sedikit demi sedikit sebelum akhirnya bangunan tersebut roboh.

Penyelamatan Terkendala Peralatan

Menurut laporan Al Jazeera, kekurangan alat berat menjadi salah satu persoalan utama dalam operasi penyelamatan. Petugas Pertahanan Sipil terpaksa menggunakan peralatan terbatas dan bantuan tenaga warga untuk mencari mereka yang masih tertimbun.

Kondisi ini bukan persoalan baru. Ribuan bangunan di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran selama perang. Sebagian warga masih tinggal di bangunan yang rusak karena pilihan tempat tinggal sangat terbatas. Al Jazeera juga melaporkan adanya pembatasan terhadap masuknya material pembangunan dan peralatan berat yang dibutuhkan untuk membersihkan reruntuhan.

Koordinator Kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina, Ramiz Alakbarov, menyatakan keprihatinannya atas korban yang meninggal dan mereka yang masih terjebak. Ia juga menekankan bahwa setiap menit sangat berarti dalam upaya menyelamatkan korban yang kemungkinan masih hidup.

Baca Juga  Jika Kalian Sakit, tersenyumlah Karena Allah akan Membahagiakanmu

Krisis Kemanusiaan Belum Berakhir

Situasi tersebut terjadi di tengah kondisi kemanusiaan Gaza yang masih berat. Laporan OCHA pada 11 September 2026 menyebut serangan dan kekerasan masih menyebabkan korban serta kerusakan, sementara kebutuhan medis, air bersih dan sanitasi masih menghadapi berbagai kendala.

OCHA juga menyatakan upaya memperbaiki kondisi tempat pengungsian menghadapi kekurangan pendanaan serta pembatasan masuknya material, suku cadang dan bahan penting. Persiapan menghadapi risiko banjir menjelang musim hujan juga menjadi perhatian karena banyak warga masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat.

Tragedi runtuhnya bangunan al-Saada kembali memperlihatkan betapa berat kehidupan warga Palestina di Gaza. Bagi keluarga korban, reruntuhan itu bukan sekadar beton dan bangunan yang roboh, tetapi tempat tinggal yang menjadi saksi kehidupan, keluarga dan harapan mereka.

Di tengah tragedi tersebut, proses pencarian korban masih berlangsung. Harapan penyelamat adalah menemukan mereka yang masih hidup, sementara keluarga korban terus menanti kabar dari balik reruntuhan.

Bagi masyarakat internasional, peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya akses bantuan kemanusiaan, perlindungan terhadap warga sipil dan dukungan bagi upaya penyelamatan serta pemulihan kehidupan masyarakat Gaza.

Editor: Bang Bangun Lubis

Sumber utama: AlJazeera, 16 September 2026; data kemanusiaan PBB/OCHA, 11 September 2026. 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button